Kamis, 25 Agustus 2011

Posted by ola mafaza kusuma wijayanti On 21.40

Bila Anda penggemar makanan tradisional, pasti Anda mengenal benda yang berbentuk bulat gepeng, kulit tipis kecoklatan, berbau dan banyak dikonsumsi orang. Benda tersebut adalah Jengkol. Jengkol atau Jering atau Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum adalah tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara, termasuk yang digemari di Malaysia, Thailand dan Indonesia terutama di wilayah Jawa Barat yang seharinya dikonsumsi 100 ton.


Tanaman jengkol berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 10-26 meter. Buahnya berupa polong berbentuk gepeng dan berbelit. Warna buahnya lembayung tua. Setelah tua, bentuk polong buahnya menjadi cembung dan di tempat yang mengandung biji ukurannya membesar. Tiap polong dapat berisi 5-7 biji. Bijinya berkulit ari tipis dan berwarna cokelat mengilap.


Jengkol akan membuat kehebohan saat memasaknya dan setelah diproses oleh pencernaan, yaitu menimbulkan bau yang katanya tak sedap. Penyebab bau itu sebenarnya adalah asam-asam amino yang terkandung di dalam biji jengkol. Asam amino itu didominasi oleh asam amino yang mengandung unsur Sulfur (S). Ketika terdegradasi atau terpecah-pecah menjadi komponen yang lebih kecil, asam amino itu akan menghasilkan berbagai komponen flavor yang sangat bau, karena pengaruh sulfur tersebut. Salah satu gas yang terbentuk dengan unsur itu adalah gas H2S yang terkenal sangat bau.


Bau yang ditimbulkan dari jengkol itu sebenarnya cukup mengganggu, terutama bagi orang lain yang tidak ikut makan. Kalau yang makan, meskipun bau, setidak-tidaknya sudah menikmati kelezatan jengkol. Tetapi bagi orang lain yang tidak ikut merasakan, tetapi cuma kebagian baunya, akan merasa sangat terganggu. Apalagi dengan air seni yang dikeluarkannya. Jika pemakan jengkol ini buang air di WC dan kurang sempurna membilasnya, maka WC akan bau tidak enak dan mengganggu ketenangan orang lain.


Saat dicerna jengkol akan menyisakan zat yang disebut asam jengkolat (jencolid acid) yang dibuang ke ginjal. Di sinilah efek yang sering ditakuti oleh orang-orang, yaitu jengkoleun atau jengkolan. Jengkolan terjadi saat asam jengkolat yang memang sulit larut dalam air akhirnya mengendap dalam ginjal, membentuk kristal padat hingga bisa berakibat sulit membuang air seni. Jika pH darah kita netral, asam jengkolat aman-aman saja, tapi jika cenderung asam (pH kurang dari 7) asam jengkolat membentuk kristal tak larut.


Risiko terkena jengkolan ini tidak tergantung pada banyaknya jengkol yang dikonsumsi, tetapi bergantung pada kerentanan tubuh seseorang. Orang yang rentan, mengonsumsi sedikit jengkol saja dapat menyebabkan terjadinya jengkolan. Apa yang memengaruhi kerentanan seseorang terhadap asam jengkolat belum jelas, tapi diduga akibat faktor genetik dan lingkungan.


Dibalik bau yang ditimbulkan jengkol, ternyata terkandung manfaat yang berguna bagi kesehatan. Menurut berbagai penelitian menunjukkan bahwa jengkol juga kaya akan karbohidrat, protein, vitamin A, vitamin B, Vitamin C, fosfor, kalsium, alkaloid, minyak atsiri, steroid, glikosida, tanin, dan saponin.


Khusus untuk vitamin C terdapat kandungan 80 mg pada 100 gram biji jengkol, sedangkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan per hari adalah 75 mg untuk wanita dewasa dan 90 mg untuk pria dewasa.


Selain itu, Jengkol merupakan sumber protein yang baik, yaitu 23,3 g per 100 g bahan. Kadar proteinnya jauh melebihi tempe yang selama ini dikenal sebagai sumber protein nabati, yaitu hanya 18,3 g per 100 g. Kebutuhan protein setiap individu tentu saja berbeda-beda. Selain untuk membantu pertumbuhan dan pemeliharaan, protein juga berfungsi membangun enzim, hormon, dan imunitas tubuh. Karena itu, protein sering disebut zat pembangun.


Untuk zat besi, Jengkol mengandung 4,7 g per 100 g. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia. Gejala-gejala orang yang mengalami anemia defisiensi zat besi adalah kelelahan, lemah, pucat dan kurang bergairah, sakit kepala dan mudah marah, tidak mampu berkonsentrasi, serta rentan terhadap infeksi. Penderita anemia kronis menunjukkan bentuk kuku seperti sendok dan rapuh, pecah-pecah pada sudut mulut, lidah sulit menelan.


Remaja, wanita hamil, ibu menyusui, orang dewasa, dan vegetarian adalah yang paling berisiko untuk mengalami kekurangan zat besi. Di dalam tubuh, besi sebagian terletak dalam sel-sel darah merah sebagai heme, suatu pigmen yang mengandung inti sebuah atom besi.


Jengkol juga sangat baik bagi kesehatan tulang karena tinggi kandungan kalsium, yaitu 140 mg/ 100 g. Peran kalsium pada umumnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu membantu pembentukan tulang dan gigi, serta mengatur proses biologis dalam tubuh.


Keperluan kalsium terbesar adalah pada saat masa pertumbuhan, tetapi pada masa dewasa konsumsi yang cukup sangat dianjurkan untuk memelihara kesehatan tulang. Konsumsi kalsium yang dianjurkan pada orang dewasa adalah 800 mg per hari.


Kandungan fosfor pada jengkol (166,7 mg/100 g) juga sangat penting untuk pembentukan tulang dan gigi, serta untuk penyimpanan dan pengeluaran energi. Dengan demikian, sesungguhnya banyak manfaat yang diperoleh dari mengonsumsi jengkol dan ini hanya masukan saja, bukan doktrin yang mengharuskan Anda untuk percaya dan mengikuti agar mengkonsumsi jengkol, tapi hanya sekedar Anda tahu bahwa ada khasiat dibalik sayuran polong berbau ini.
Posted by ola mafaza kusuma wijayanti On 21.36
Semut adalah makhluk hidup dengan populasi terpadat didunia. Perbandingannya, untuk setiap 700 juta semut yang muncul ke dunia, hanyaterdapat 40 kelahiran manusia. Semut merawat bayi-bayi mereka, melindungikoloni, bertempur, memproduksi dan menyimpan makanan. Bahkan ada koloni yangmelakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan "pertanian" atau "peternakan".Masyarakat semut disebut koloni, yang terorganisasi luar biasa baik. Tatananorganisasinya memiliki peradaban yang mirip dengan peradaban manusia.

Semut pencari pergi ke sumber makanan yang baru ditemukan.Lalu mereka memanggil semut lain dengan cairan yang disebut feromon, yangdisekresikan dalam kelenjar-kelenjar mereka. Saat kerumunan di sekitar makananmembesar, sekresi feromon membatasi pekerja. Jika makanan sangat kecil ataujauh, pencari menyesuaikan jumlah semut yang mencoba mencapai makanan denganmengeluarkan isyarat. Jika makanan besar, semut mencoba lebih giat untukmeninggalkan lebih banyak jejak, sehingga lebih banyak semut dari sarang yangmembantu para pemburu. Apa pun yang terjadi, tak pernah ada masalah dalamkonsumsi makanan dan pemindahannya ke sarang, karena di sini ada "kerja tim"yang sempurna.

Contoh lain berkaitan dengan semut penjelajah yangbermigrasi dari sarang ke sarang. Semut ini mendekati sarang tua dari sarangyang baru ditemukan dengan meninggalkan jejak. Para pekerja lain memeriksasarang baru itu dan jika mereka yakin, mereka juga mulai meninggalkan feromonmereka sendiri (jejak kimiawi) di atas jejak lama. Oleh karena itu, semut yangberjalan di antara dua sarang itu meningkat jumlahnya dan mereka menyiapkansarang. Selama pekerjaan ini, semut pekerja tidak bersantai. Mereka membangunorganisasi dan pembagian kerja tertentu di antara mereka.

Tugas seluruh kelompok yang diperkirakan oleh semut yangmendeteksi sarang baru adalah sebagai berikut: 1. Bertindak sebagai pengumpuldi wilayah baru. 2. Datang ke wilayah baru dan berjaga. 3. Mengikuti penjagauntuk menerima perintah pertemuan. 4. Membuat survei terperinci wilayahtersebut.

Tentu saja, kita tidak bisa menyepelekan saja tanpaperenungan bahwa rencana aksi sempurna tersebut telah dipraktikkan semut sejakhari pertama mereka muncul. Pembagian kerja yang disyaratkan rencana sepertiini tidak dapat diterapkan oleh individu yang hanya memikirkan hidup dankepentingannya sendiri. Lalu muncullah pertanyaan berikut: "Siapa yangmengilhamkan rencana ini dalam diri semut selama berjuta tahun dan siapa yangmemastikan penerapannya?"

Semua kategori komunikasi yang disebut di atas dapatdikelompok-kan dalam judul "Isyarat Kimiawi". Isyarat kimiawi ini memainkanperan terpenting dalam organisasi koloni semut. Semiokemikal adalah nama umumzat kimia yang digunakan semut untuk tujuan menetapkan komunikasi. Padadasarnya ada dua jenis semiokemikal, yaitu feromon dan alomon.

Alomon adalah zat yang digunakan untuk komunikasiantargenus. Namun, seperti yang dijelaskan sebelumnya, fero-mon adalah isyaratkimiawi yang terutama digunakan dalam genus yang sama dan saat disekresikanoleh seekor semut dapat dicium oleh yang lain. Zat kimia ini diduga diproduksidalam kelenjar endokrin. Saat semut menyekresi cairan ini sebagai isyarat, yanglain menangkap pesan lewat bau atau rasa dan menanggapinya. Penelitian mengenaiferomon semut telah menyingkapkan bahwa semua isyarat disekresikan menurutkebutuhan koloni. Selain itu, konsentrasi feromon yang disekresikan semutbervariasi menurut kedaruratan situasi.

Seperti terlihat, diperlukan pengetahuan kimia yang mendalamuntuk mengelola tugas yang dilakukan semut. Kita dapat menganalisis zat kimiayang diproduksi semut hanya melalui uji laboratorium, dan harus menuntut ilmubertahun-tahun untuk dapat melakukannya. Namun semut dapat menyekresikan zatini kapan saja mereka perlu, dan telah melakukannya sejak hari mereka menetas,serta tahu betul tanggapan apa yang perlu diberikan kepada setiap sekresi.

Kenyataan bahwa mereka dapat mengidentifikasi zat kimiasecara tepat begitu menetas menunjukkan adanya "instruktur" yang memberi merekapendidikan ilmu kimia saat menetas. Mengklaim hal sebaliknya berarti menerimabahwa semut telah mempelajari ilmu kimia perlahan-lahan dan mulai melakukanpercobaan: ini melanggar logika. Semut mengenal zat-zat kimia ini tanpapendidikan apa pun saat menetas.

Kita tak bisa berkata bahwa semut lain atau makhluk hiduplain adalah "guru" semut itu. Tak ada serangga, tak ada makhluk hidup, termasukmanusia, yang mampu mengajari semut cara memproduksi zat kimia danberkomunikasi dengannya. Jika ada tindakan pengajaran sebelum lahir,satu-satunya kehendak yang mampu melakukan tindakan ini adalah Allah, yangmerupakan Pencipta segala makhluk dan "Rabb [Pendidik]" langit dan bumi.

"Semut mampu mengangkat benda seberat 10 kali beratdirinya."

Semut bergerak 24 jam sehari. Kecepatan berjalan semut, 0,5km/jam dengan volume yang 1/130, maka kecepatan semut seukuran manusia adalah80km/jam. Dalam berduel semut mampu mengimbangi binatang atau serangga musuh 5kali lebih besar dari dirinya (kecuali lebah, laba-laba dan lipan)

Apabila diluruskan sarang semut sepanjang 7km. Ternyatabinatang yang terlemah dan tak tenar ini sebenarnya adalah yang terkuat di mukabumi. Kalau tidak salah ada juga semut ini disebutkan dalam kitab suci.Kelihatannya pantas karena memang binatang super. Bisa jadi mungkin ada hikmahdibalik kitab suci pada semut, mungkin kita supaya sering merenungkan sifatsemut, yang tidak terkenal tapi setia, pekerja, dan kuat.
Posted by ola mafaza kusuma wijayanti On 21.34

Surga ...

terimalah ia seperti halnya aku menerimanya

sayangilah dia seperti halnya aku menyayanginya

jagalah ia seperti halnya aku menjaganya

berikan dia ditempat terindah seperti halnya aq memberikannya tempat iang indah

rawatlah ia sperti halnya aq merawatnya .

indahkanlah ia seperti halnya aq mengindahkannya



Surga ..

karena ia yang mau menerima q apa adanya

karena ia yang mau menyayangiku sampai akhir hayatnya

karena ia yang mau menjaga q di seLa kesibukan duniawinya

karena ia yang mau menjadikan q indah di sela keangkuhan manusia lainnya

karena ia yang mau merawat q di sela penat masalahnya

karena ia yang mau mengindahkan q dngan ibadah dan amaL-amaL kebaikannya





()

*Senantiasa berbuat baiklah untuk bumi kita tercinta ini .. karena bumi akan mendoakan kita juga nantinya ^^